Jumat, 29 April 2016

Promil Part 1 - Pemeriksaan pra nikah

Ah, kalau ngomongin tentang promil, bawaannya pengen tarik napas dalam-dalam, buang napas pelan-pelan, lalu menghirup Nu Milk Tea dingin. Kenapa? Karena bahasan ini membuat saya baper sekaligus bersemangat. Baper karena menjalaninya membutuhkan proses yang panjang dan menguras air mata (juga isi dompet). Bersemangat karena saya tahu Alloh Maha Melihat semua ikhtiar hamba-Nya. Saya yakin ada akhir terbaik dari rangkaian proses yang saya jalani. Bersemangat juga karena ada Ayang yang selalu menguatkan saya, yang menemani saya selama jatuh bangun promil, dan yang selalu saya ancam agar tidak meninggalkan saya (ini karena baper, hehehe).




Semua perjalanan punya sebuah awal, dan tulisan ini adalah awal dari rangkaian tulisan yang akan saya publikasikan di blog ini dengan label [Promil]. Jujur saya sangat terbantu dengan keberadaan beberapa blog dan forum yang membahas tentang perjuangan memiliki anak. Selain memberikan banyak informasi, saya merasa terkuatkan karena ada banyak calon ibu di luar sana yang sama-sama merindukan pertemuan dengan anak yang mereka dambakan. Jadi yah, semoga tulisan ini bisa sedikit banyak memberikan manfaat bagi orang lain, dan terutama bagi saya sendiri, karena writing is healing (kata seseorang), dan saya ingin menyembuhkan diri saya sendiri dari segala pikiran negatif yang kerap datang manakala saya belum memperoleh hasil yang saya inginkan.

Saya adalah perempuan yang memiliki gangguan reproduksi berupa haid tidak teratur. Sejak haid pertama di bulan April 2001 (saat itu saya duduk di kelas 1 SMP), saya terbiasa dengan haid yang datang dua bulan sekali, tiga bulan sekali, bahkan setahun hanya dua kali. Durasi haid saya juga bervariasi, minimal tujuh hari sampai pernah lima belas hari. Saya sempat khawatir, tetapi Ibu saya mengatakan bahwa beliau juga mengalami kondisi yang sama setelah menikah. Haid Ibu baru teratur setiap bulan setelah beliau menikah. Saya akhirnya tidak ambil pusing dan tidak mempermasalahkan masalah haid ini. Malah saya menikmatinya karena beberapa kali saya tidak haid di bulan Ramadhan, yang berarti saya bisa berpuasa sebulan penuh tanpa bolong.


Sebenarnya saya pernah teratur haid selama setahun. Di tahun 2009, saya haid teratur setiap bulan dengan siklus 30-31 hari. Well, saat itu jadwal kuliah sedang tidak terlalu padat dan satu-satunya kegiatan saya adalah berkutat dengan tugas akhir. Maka saya asumsikan bahwa keteraturan ini berasal dari kondisi tubuh dan pikiran saya yang rileks karena tidak banyak berhadapan dengan permasalahan kuliah.

Lalu seorang pria melamar saya di tahun 2010, dan kami merancang pernikahan di pertengahan 2012. Batin saya gundah, mengingat pernikahan berarti hadirnya pertanyaan lain seperti "sudah hamil belum?", "anaknya sudah berapa?", duh. Oleh karena itu, enam bulan sebelum pernikahan, saya membuat janji dengan seorang dokter spesialis kandungan untuk diperiksa.

Klinik yang saya datangi adalah Klinik Ezka di Jalan Radial Palembang. Dokter yang saya jumpai adalah dr. Nuswil SPOG. Untuk daftar, saya buat perjanjian via telepon, agak shock begitu tahu di hari yang saya inginkan ternyata sudah waiting list 28 orang! Lalu saya pindah ke hari lain, alhamdulillah dapat nomor antrian 8. Saya datang ke klinik setelah pulang dari kantor, sekitar pukul setengah enam sore. Suster memberikan formulir pendaftaran untuk saya isi, lalu saya diukur tekanan darah dan berat badan. Kemudian saya diminta menunggu. Saat itu, pasien selain saya adalah seorang ibu muda yang ditemani anak balitanya. Dia tersenyum ramah dan bertanya, "anak pertama ya mbak?". Saya mesem-mesem saat menjawab, "nggak Bu, saya mau pemeriksaan pra nikah." Si Ibu agak bengong gitu, mungkin belum pernah dengar tentang pemeriksaan pra nikah sebelumnya. Lalu saya menghabiskan waktu menunggu dengan menonton TV dan main HP.

Setelah magrib, Ayah dan Ibu saya datang ke klinik. Rupanya Ibu agak khawatir anaknya ini pergi ke dokter sendirian, berhadapan dengan dokter kandungan cowok pula. Setelah lamaaa menunggu, akhirnya saya baru dipanggil masuk ke ruang periksa pukul setengah sembilan malam (what the?). Tiba di dalam ruangan, dr. Nuswil langsung berdiri lalu menjabat tangan saya dan Ibu. Saya kemudian mengutarakan jadwal haid saya yang tidak teratur dan rencana saya untuk menikah dalam beberapa bulan ke depan. Saya lalu di-USG perut dan dokter menenangkan saya dengan mengatakan bahwa tidak ada kista, miom, tumor, atau kelainan lain di rahim saya. Beliau meresepkan Cyclo Progynova untuk saya konsumsi dan berkata bahwa setelah menikah, aktif berhubungan seksual, hamil, dan melahirkan akan merombak sistem reproduksi sehingga besar kemungkinannya setelah menikah haid saya akan menjadi teratur. Kemudian saya katakan bahwa Ibu saya juga mengalami hal serupa ketika masih gadis. Dokter mengatakan bahwa hal ini bisa jadi faktor keturunan, tetapi karena saya masih gadis, maka dokter tidak bisa memeriksa lebih detail. Nanti saja setelah menikah, katanya, kalau haid saya masih tidak teratur bisa konsultasi ke dokter lagi. Overall, dr. Nuswil orangnya oke, jelas memberikan jawaban, ramah, tapi antrian pasiennnya itu yaaa.. duh.. (beberapa tahun kemudian, saya akhirnya terbiasa menunggu berjam-jam untuk diperiksa dokter).

Saya keluar dari klinik dengan hati lega. Tidak demikian dengan Ibu. Beliau tidak memperbolehkan saya mengkonsumsi obat yang diresepkan dokter. "Kayak pil KB," kata Ibu. Iya, Cyclo Progynova ini bentuknya seperti satu strip pil KB, dilengkapi dengan alur hari kapan obatnya diminum.
Saya pun googling, memang obat ini isinya hormon untuk membantu memperlancar siklus haid. Setelah mendapat persetujuan Ibu akhirnya obat ini saya konsumsi teratur. Saya diberi 1 strip Cyclo Progynova, dan setelah konsumsi pil terakhir, saya haid. Haid pertama dalam dua bulan terakhir, yeeeyy! Periode haid saya jalani dengan normal, tidak ada rasa sakit berlebihan dan berlangsung 7 hari, seperti biasa. Namun rupanya obat ini tidak membuat saya rutin haid sesuai siklus normal. Setelah obat habis, saya haid, selesai haid, dua bulan kemudian baru haid lagi. Ya sudah, saya percaya saja dengan perkataan dokter, kemudian memutuskan untuk tidak memusingkan masalah haid lagi karena saya mulai sibuk menyiapkan pernikahan.

Yap, tulisan pertama ini sampai di akhir pemeriksaan dengan dr. Nuswil. Di post berikutnya akan saya ceritakan pengalaman saya dengan dokter lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih untuk komentar yang diberikan, but be courteous please..
anda sopan, saya segan, hehehe