Senin, 28 Maret 2016

Pengendalian Diri

Minggu lalu, di perjalanan saya dan Ayang menuju kantor, saya mendapat pengalaman yang berhargaaaaa sekali terkait pengendalian diri a.k.a self control. Penasaran? Ini dia ceritanya.

04.58
Sampai di stasiun Depok. Buru-buru menyarungkan kantong plastik ke helm biar gak basah kalau kehujanan. Dengan langkah yang terlatih untuk jalan ngebut, saya melewati tapping gate lalu menggamit tangan Ayang sambil menyusuri peron 2 yang sudah kelihatan ramai. Kami tiba di lokasi PW (posisi wuenak) tempat kami biasa menunggu KRL. Kenapa PW? Karena setelah melewati serangkaian uji coba dan penelitian, akhirnya kami tahu dengan tepat di mana posisi pintu kereta agar saat terbuka kami sudah sigap berada di depannya. You know lah, bukan cuma saat ujian saja "posisi menentukan prestasi", saat nungguin KRL juga booo, biar dapet duduk trus tidur sampai stasiun tujuan.


05.01
Tung ting ting tung! Jalur 2, jalur 2, dipersiapkan untuk KRL tujuan tanah abang-duri. Penumpang harap menunggu di batas garis aman demi keselamatan Anda.
Nah, peringatan akan datangnya kereta sudah diumumkan. Yosh, siapkan mata dan sikut (buat nyikut orang). Pas lagi lirik kanan-kiri, saya menemukan sesama penumpang yang memang rutin menghuni posisi wuenak ini. Tak jarang kami berebutan kursi saat di dalam kereta. Ada sepasang suami istri di sebelah kanan Ayang, dan ada seorang bapak yang jaket itemnya ituuu-itu aja mengapit saya dari sebelah kiri. Sedikit berbisik, saya katakan pada Ayang "No Mercy!". Ayang senyum aja.

05.03
Kereta melintas. Bunyi decit remnya sudah terdengar, pertanda pintu kereta andalan akan segera berada di hadapan kami. Eh tapi kok ini si Bapak ngotot banget ya mepetnya. Kereta berhenti. Si Bapak tambah kenceng mendorong sisi kiri saya. Pintu kereta membuka. Si Bapak ngotot mendorong saya ke kanan, mungkin dia mengincar kursi pas di sebelah pintu. Saya gak terima dong, saya balas lah. Adu badan itu berlangsung kira-kira dua detik, sampai Ayang menarik tangan saya menuju kursi pilihannya.

05.15
Kereta baru saja berangkat. Saya elus-elus lengan atas saya yang agak nyut-nyut pasca diajak otot-ototan sama Si Bapak jaket item. Kebetulan Si Bapak duduk di hadapan kami. Sambil siap-siap tidur saya membatin, "Kapaaaan Bapak ini bakal dapet batunya, huh!".

05.50
Kereta berjalan melambat karena akan memasuki stasiun Manggarai. Saya terbangun dan otomatis menoleh ke kursi di mana Si Bapak berada. Kok Si Bapak masih tidur yak? Biasanya dia turun di Manggarai. Ini kayaknya lempeng aja keretanya mau masuk stasiun dia nggak siap-siap. Saya membatin lagi, "mudah-mudahan Si Bapak ketiduran, trus kelewatan stasiun, hihihihi. Rasain tuh udah bikin tangan aku sakit!" (tiba-tiba tumbuh tanduk dan ekor warna merah).

 

05.54
Kereta beranjak meninggalkan stasiun Manggarai. Si Bapak masih tidur. Yes! Yes! Yes! Saya bersorak sorai dalam hati.

05.59
Kereta tiba di stasiun Sudirman. Saya dan Ayang bersiap-siap turun. Sesaat sebelum kereta berhenti, saya perhatikan Si Bapak sudah bangun dan terlihat panik. Ketika turun dari kereta, ia langsung melesat ke eskalator untuk menuju peron seberang. Tapi kasihan, ada pengumuman kalau kereta jurusan Depok (arah mau ke Manggarai lagi) baru tersedia di stasiun Duri, yang kira-kira masih 20 menitan lagi baru sampai di Sudirman. Wuidih, pengen ngakak trus ngasih tatapan super puas ke Si Bapak. Rasain! Emang enak! Hihihihi (ngikik ala Susanna).

06.17
Saya dan Ayang sedang menaiki jembatan penyeberangan. Karena hati sedang senang (karena balas dendam terlampiaskan), saya pun bercerita tentang Si Bapak tadi kepada Ayang. Guess what was Ayang's reaction? Yes, he laughed wickedly (ya kaleeeee!). Ayang langsung bilang, "Istighfar Neng, Neng gak boleh gitu. Gimana kalau kejadian sama kita?" Hiks, saya cerita kan pengen dapet dukungan gitu, ini malah dimarahin. Emang pantes laaah, udah kayak kesambet setan aja sampai doain orang kelewatan stasiun, eh malah minta didukung (keplak diri sendiri). Akhirnya sampai di kantor, saya masih diem, mencoba berpikir salahku di manaaaa?, eh bukan ding, tapi saya memang salah sudah menyimpan dendam dan pikiran yang nggak-nggak ke orang lain.

Anyway, supaya nyambung sama judul di atas, saya menulis ini supaya menjadi pengingat, bahwa pengendalian diri itu butuh belajar dan pembiasaan. Saya tipe orang yang reaktif. Apa-apa dikomentarin, meskipun kebanyakan di dalam hati. Naaahh, pengendalian diri itu juga termasuk mengontrol hati, gak boleh dendam, gak boleh nyinyirin orang, gak boleh berpikir negatif apalagi mendoakan orang supaya mendapat kesulitan (ini nulisnya sambil mikir, kapaaaan saya bisa mengendalikan hati supaya nggak mikir macem-macem). Tapi as Ayang always says, bismillah aja. Dengan kejadian ini saya diingatkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Credit to Ayang, yang selalu dan tidak bosan-bosannya mengingatkan Uyungnya ini.

-hana-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih untuk komentar yang diberikan, but be courteous please..
anda sopan, saya segan, hehehe